Jumat, 13 Januari 2012

Askep Cairan & Elektrolit


1.Konsep Dasar 
1.1 Pengertian 
Cairan dan elektrolit sangat diperlukan dalam rangka menjaga kondisi tubuh tetap sehat. Keseimbangan cairan dan elektrolit di dalam tubuh adalah merupakan salah satu bagian dari fisiologi homeostatis. Keseimbangan cairan dan elektrolit melibatkan komposisi dan perpindahan berbagai cairan tubuh. Cairan tubuh adalah larutan yang terdiri dari air ( pelarut) dan zat tertentu (zat terlarut). Elektrolit adalah zat kimia yang menghasilkan partikel-partikel bermuatan listrik yang disebut ion jika berada dalam larutan. Cairan dan elektrolit masuk ke dalam tubuh melalui makanan, minuman, dan cairan intravena (IV) dan didistribusi ke seluruh bagian tubuh. Keseimbangan cairan dan elektrolit berarti adanya distribusi yang normal dari air tubuh total dan elektrolit ke dalam seluruh bagian tubuh. Keseimbangan cairan dan elektrolit saling bergantung satu dengan yang lainnya; jika salah satu terganggu maka akan berpengaruh pada yang lainnya. 

Cairan tubuh dibagi dalam dua kelompok besar yaitu : cairan intraseluler dan cairan ekstraseluler. Cairan intraseluler adalah cairan yang berda di dalam sel di seluruh tubuh, sedangkan cairan akstraseluler adalah cairan yang berada di luar sel dan terdiri dari tiga kelompok yaitu : cairan intravaskuler (plasma), cairan interstitial dan cairan transeluler. Cairan intravaskuler (plasma) adalah cairan di dalam sistem vaskuler, cairan intersitial adalah cairan yang terletak diantara sel, sedangkan cairan traseluler adalah cairan sekresi khusus seperti cairan serebrospinal, cairan intraokuler, dan sekresi saluran cerna. 

1.2 Proportion Of Body Fluid 
Prosentase dari total cairan tubuh bervariasi sesuai dengan individu dan tergantung beberapa hal antara lain : 
a.Umur 
b.Kondisi lemak tubuh 
c.Sex 
Perhatikan Uraian berikut ini : 
No. Umur Prosentase 
1. Bayi (baru lahir) 75 % 
2. Dewasa : 
a.Pria (20-40 tahun) 60 % 
b.Wanita (20-40 tahun) 50 % 
3. Usia Lanjut 45-50 % 


Pada orang dewasa kira-kira 40 % baerat badannya atau 2/3 dari TBW-nya berada di dalam sel (cairan intraseluler/ICF), sisanya atau 1/3 dari TBW atau 20 % dari berat badannya berada di luar sel (ekstraseluler) yaig terbagi dalam 15 % cairan interstitial, 5 % cairan intavaskuler dan 1-2 % transeluler. 

1.3 Elektrolit Utama Tubuh Manusia 
Zat terlarut yang ada dalam cairan tubuh terdiri dari elektrolit dan nonelektrolit. Non elektrolit adalah zat terlarut yang tidak terurai dalam larutan dan tidak bermuatan listrik, seperti : protein, urea, glukosa, oksigen, karbon dioksida dan asam-asam organik. Sedangkan elektrolit tubuh mencakup natrium (Na+), kalium (K+), Kalsium (Ca++), magnesium (Mg++), Klorida (Cl-), bikarbonat (HCO3-), fosfat (HPO42-), sulfat (SO42-). 

Konsenterasi elektrolit dalam cairan tubuh bervariasi pada satu bagian dengan bagian yang lainnya, tetapi meskipun konsenterasi ion pada tiap-tiap bagian berbeda, hukum netralitas listrik menyatakan bahwa jumlah muatan-muatan negatif harus sama dengan jumlah muatan-muatan positif. 

Komposisi dari elektrolit-elektrolit tubuh baik pada intarseluler maupun pada plasma terinci dalam tabel di bawah ini : 

No. Elektrolit Ekstraseluler Intraseluler 
Plasma Interstitial 
1. Kation : 
• Natrium (Na+) 144,0 mEq 137,0 mEq 10 mEq 
• Kalium (K+) 5,0 mEq 4,7 mEq 141 mEq 
• Kalsium (Ca++) 2,5 mEq 2,4 mEq 0 
• Magnesium (Mg ++) 1,5 mEq 1,4 mEq 31 mEq 

2. Anion : 
• Klorida (Cl-) 107,0 mEq 112,7 mEq 4 mEq 
• Bikarbonat (HCO3-) 27,0 mEq 28,3 mEq 10 mEq 
• Fosfat (HPO42-) 2,0 mEq 2,0 mEq 11 mEq 
• Sulfat (SO42-) 0,5 mEq 0,5 mEq 1 mEq 
• Protein 1,2 mEq 0,2 mEq 4 mEq 

a. Kation : 
• Sodium (Na+) : 
- Kation berlebih di ruang ekstraseluler 
- Sodium penyeimbang cairan di ruang eesktraseluler 
- Sodium adalah komunikasi antara nerves dan musculus 
- Membantu proses keseimbangan asam-basa dengan menukar ion hidrigen pada ion sodium 
di tubulus ginjal : ion hidrogen di ekresikan 
- Sumber : snack, kue, rempah-rempah, daging panggang. 

• Potassium (K+) : 
- Kation berlebih di ruang intraseluler 
- Menjaga keseimbangan kalium di ruang intrasel 
- Mengatur kontrasi (polarissasi dan repolarisasi) dari muscle dan nerves. 
- Sumber : Pisang, alpokad, jeruk, tomat, dan kismis. 

• Calcium (Ca++) : 
- Membentuk garam bersama dengan fosfat, carbonat, flouride di dalam tulang dan gigi untuk membuatnya keras dan kuat 
- Meningkatkan fungsi syaraf dan muscle 
- Meningkatkan efektifitas proses pembekuan darah dengan proses pengaktifan 
protrombin dan trombin 
- Sumber : susu dengan kalsium tinggi, ikan dengan tulang, sayuran, dll. 

b.Anion : 
• Chloride (Cl -) : 
- Kadar berlebih di ruang ekstrasel 
- Membantu proses keseimbangan natrium 
- Komponen utama dari sekresi kelenjar gaster 
- Sumber : garam dapur 



• Bicarbonat (HCO3 -) : 
Bagian dari bicarbonat buffer sistem 
- Bereaksi dengan asam kuat untuk membentuk asam karbonat dan suasana garam untuk 
menurunkan PH. 

• Fosfat ( H2PO4- dan HPO42-) : 
- Bagian dari fosfat buffer system 
- Berfungsi untuk menjadi energi pad metabolisme sel 
- Bersama dengan ion kalsium meningkatkan kekuatan dan kekerasan tulang 
- Masuk dalam struktur genetik yaitu : DNA dan RNA. 

1.4 Perpindahan Cairan dan Elektrolit Tubuh 
Perpindahan cairan dan elektrolit tubuh terjadi dalam tiga fase yaitu : 
a.Fase I : 
Plasma darah pindah dari seluruh tubuh ke dalam sistem sirkulasi, dan nutrisi dan oksigen diambil dari paru-paru dan tractus gastrointestinal. 

b.Fase II : 
Cairan interstitial dengan komponennya pindah dari darah kapiler dan sel 

c.Fase III : 
Cairan dan substansi yang ada di dalamnya berpindah dari cairan interstitial masuk ke dalam sel. 
Pembuluh darah kapiler dan membran sel yang merupakan membran semipermiabel mampu memfilter tidak semua substansi dan komponen dalam cairan tubuh ikut berpindah. Metode perpindahan dari cairan dan elektrolit tubuh dengan cara : 
• Diffusi 
• Filtrasi 
• Osmosis 
• Aktiv Transport 

Diffusi dan osmosis adalah mekanisme transportasi pasif. Hampir semua zat berpindah dengan mekanisme transportasi pasif. Diffusi sederhana adalah perpindahan partikel-partikel dalam segala arah melalui larutan atau gas. Beberapa faktor yang mempengaruhi mudah tidaknya difusi zat terlarut menembus membran kapiler dan sel yaitu : 
• Permebelitas membran kapiler dan sel 
• Konsenterasi 
• Potensial listrik 
• Perbedaan tekanan. 
Osmosis adalah proses difusi dari air yang disebabkan oleh perbedaan konsentrasi. Difusi air terjadi pada daerah dengan konsenterasi zat terlarut yang rendah ke daerah dengan konsenterasi zat terlarut yang tinggi. 

Perpindahan zat terlarut melalui sebuah membrane sel yang melawan perbedaan konsentrasi dan atau muatan listrik disebut transportasi aktif. Transportasi aktif berbeda dengan transportasi pasif karena memerlukan energi dalam bentuk adenosin trifosfat (ATP). Salah satu contonya adalah transportasi pompa kalium dan natrium. 

Natrium tidak berperan penting dalam perpindahan air di dalam bagian plasma dan bagian cairan interstisial karena konsentrasi natrium hampir sama pada kedua bagian itu. Distribusi air dalam kedua bagian itu diatur oleh tekanan hidrostatik yang dihasilkan oleh darah kapiler, terutama akibat oleh pemompaan oleh jantung dan tekanan osmotik koloid yang terutama disebabkan oleh albumin serum. Proses perpindahan cairan dari kapiler ke ruang interstisial disebut ultrafilterisasi. Contoh lain proses filterisasi adalah pada glomerolus ginjal. 

Meskipun keadaan di atas merupakan proses pertukaran dan pergantian yang terus menerus namun komposisi dan volume cairan relatif stabil, suatu keadaan yang disebut keseimbangan dinamis atau homeostatis. 

1.5 Regulating Body Fluid Volumes 
Di dalam tubuh seorang yang sehat volume cairan tubuh dan komponen kimia dari cairan tubuh selalu berada dalam kondisi dan batas yang nyaman. Dalam kondisi normal intake cairan sesuai dengan kehilangan cairan tubuh yang terjadi. Kondisi sakit dapat menyebabkan gangguan pada keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh. Dalam rangka mempertahankan fungsi tubuh maka tubuh akan kehilanagn caiaran antara lain melalui proses penguapan ekspirasi, penguapan kulit, ginjal (urine), ekresi pada proses metabolisme. 

a. Intake Cairan : 
Selama aktifitas dan temperatur yang sedang seorang dewasa minum kira-lira 1500 ml per hari, sedangkan kebutuhan cairan tubuh kira-kira 2500 ml per hari sehingga kekurangan sekitar 1000 ml per hari diperoleh dari makanan, dan oksidasi selama proses metabolisme.Berikut adalah kebutuhan intake cairan yang diperlukan berdasarkan umur dan berat badan, perhatikan tabel di bawah ini : 

No. Umur Berat Badan (kg) Kebutuhan Cairan (mL/24 Jam). 
1. 3 hari 3,0 250-300 
2 1 tahun 9,5 1150-1300 
3. 2 tahun 11,8 1350-1500 
4. 6 tahun 20,0 1800-2000 
5. 10 tahun 28,7 2000-2500 
6. 14 tahun 45,0 2200-2700 
7. 18 tahun(adult) 54,0 2200-2700 

Pengatur utama intake cairan adalah melalui mekanisme haus. Pusat haus dikendalikan berada di otak Sedangakan rangsangan haus berasal dari kondisi dehidrasi intraseluler, sekresi angiotensin II sebagai respon dari penurunan tekanan darah, perdarahan yang mengakibatkan penurunan volume darah. Perasaan kering di mulut biasanya terjadi bersama dengan sensasi haus walupun kadang terjadi secara sendiri. Sensasi haus akan segera hilang setelah minum sebelum proses absorbsi oleh tractus gastrointestinal. 

b.Output Cairan : 
Kehilangan caiaran tubuh melalui empat rute (proses) yaitu : 
a.Urine : 
Proses pembentukan urine oleh ginjal dan ekresi melalui tractus urinarius merupakan proses output cairan tubuh yang utama. Dalam kondisi normal output urine sekitar 1400-1500 ml per 24 jam, atau sekitar 30-50 ml per jam. Pada orang dewasa. Pada orang yang sehat kemungkinan produksi urine bervariasi dalam setiap harinya, bila aktivitas kelenjar keringat meningkat maka produksi urine akan menurun sebagai upaya tetap mempertahankan keseimbangan dalam tubuh. 

b.IWL (Insesible Water Loss) : 
IWL terjadi melalui paru-paru dan kulit, Melalui kulit dengan mekanisme difusi. Pada orang dewasa normal kehilangan cairan tubuh melalui proses ini adalah berkisar 300-400 mL per hari, tapi bila proses respirasi atau suhu tubuh meningkat maka IWL dapat meningkat. 

c.Keringat : 
Berkeringat terjadi sebagai respon terhadap kondisi tubuh yang panas, respon ini berasal dari anterior hypotalamus, sedangkan impulsnya ditransfer melalui sumsum tulang belakang yang dirangsang oleh susunan syaraf simpatis pada kulit. 
d.Feces : 
Pengeluaran air melalui feces berkisar antara 100-200 mL per hari, yang diatur melalui mekanisme reabsorbsi di dalam mukosa usus besar (kolon). 

1.6 Faktor yang Berpengaruh pada Keseimbangan Cairan dan Elektrolit 
Faktor-faktor yang berpengaruh pada keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh antara lain : 
a.Umur : 
Kebutuhan intake cairan bervariasi tergantung dari usia, karena usia akan berpengaruh pada luas permukaan tubuh, metabolisme, dan berat badan. Infant dan anak-anak lebih mudah mengalami gangguan keseimbangan cairan dibanding usia dewasa. Pada usia lanjut sering terjadi gangguan keseimbangan cairan dikarenakan gangguan fungsi ginjal atau jantung. 

b.Iklim : 
Orang yang tinggal di daerah yang panas (suhu tinggi) dan kelembaban udaranya rendah memiliki peningkatan kehilangan cairan tubuh dan elektrolit melalui keringat. Sedangkan seseorang yang beraktifitas di lingkungan yang panas dapat kehilangan cairan sampai dengan 5 L per hari. 
c.Diet : 
Diet seseorag berpengaruh terhadap intake cairan dan elktrolit. Ketika intake nutrisi tidak adekuat maka tubuh akan membakar protein dan lemak sehingga akan serum albumin dan cadangan protein akan menurun padahal keduanya sangat diperlukan dalam proses keseimbangan cairan sehingga hal ini akan menyebabkan edema. 

d.Stress : 
Stress dapat meningkatkan metabolisme sel, glukosa darah, dan pemecahan glykogen otot. Mrekanisme ini dapat meningkatkan natrium dan retensi air sehingga bila berkepanjangan dapat meningkatkan volume darah. 

e.Kondisi Sakit : 
Kondisi sakit sangat b3erpengaruh terhadap kondisi keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh Misalnya : 
- Trauma seperti luka bakar akan meningkatkan kehilangan air melalui IWL. 
- Penyakit ginjal dan kardiovaskuler sangat mempengaruhi proses regulator 
keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh 
- Pasien dengan penurunan tingkat kesadaran akan mengalami gangguan pemenuhan intake 
cairan karena kehilangan kemampuan untuk memenuhinya secara mandiri. 

f.Tindakan Medis : 
Banyak tindakan medis yang berpengaruh pada keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh seperti : suction, nasogastric tube dan lain-lain. 

g.Pengobatan : 
Pengobatan seperti pemberian deuretik, laksative dapat berpengaruh pada kondisi cairan dan elektrolit tubuh. 
h.Pembedahan : 
Pasien dengan tindakan pembedahan memiliki resiko tinggi mengalami gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh, dikarenakan kehilangan darah selama pembedahan. 

1.7 Gangguan Keseimbangan Cairan dan Elektrolit Tubuh 
Tiga kategori umum yang menjelaskan abnormalitas cairan tibuh adalah : 
• Volume 
• Osmolalitas 
• Komposisi 
Ketidakseimbangan volume terutama mempengaruhi cairan ekstraseluler (ECF) dan menyangkut kehilangan atau bertambahnya natrium dan air dalam jumlah yang relatif sama, sehingga berakibat pada kekurangan atau kelebihan volume ekstraseluler (ECF). 

Ketidakseimbangan osmotik terutama mempengaruhi cairan intraseluler (ICF) dan menyangkut bertambahnya atau kehilangan natrium dan air dalam jumlah yang relatif tidak seimbang. Gangguan osmotik umumnya berkaitan dengan hiponatremia dan hipernatremia sehingga nilai natrium serum penting untuk mengenali keadaan ini. 

Kadar dari kebanyakan ion di dalam ruang ekstraseluler dapat berubah tanpa disertai perubahan yang jelas dari jumlah total dari partikel-partikel yang aktif secara osmotik sehingga mengakibatkan perubahan komposisional. 

a. Ketidakseimbangan Volume 
• kurangan Volume Cairan Ekstraseluler (ECF) 
Kekurangan volume ECF atau hipovolemia didefinisikan sebagai kehilangan cairan tubuh isotonik, yang disertai kehilangan natrium dan air dalam jumlah yang relatif sama. Kekurangan volume isotonik sering kali diistilahkan dehidrasi yang seharusnya dipakai untuk kondisi kehilangan air murni yang relatif mengakibatkan hipernatremia. 
- airan Isotonis adalah cairan yang konsentrasi/kepekatannya sama dengan cairan 
tubuh, contohnya : larutan NaCl 0,9 %, Larutan Ringer Lactate (RL). 
- Cairan hipertonis adalah cairan yang konsentrasi zat terlarut/kepekatannya 
melebihi cairan tubuh, contohnya Larutan dextrose 5 % dalam NaCl normal, Dextrose 
5% dalam RL, Dextrose 5 % dalam NaCl 0,45%. 
- Cairan Hipotonis adalah cairan yang konsentrasi zat terlarut/kepekataannya kurang 
dari cairan tubuh, contohnya : larutan Glukosa 2,5 %., NaCl.0,45 %, NaCl 0,33 %. 

• Kelebihan Volume ECF : 
Kelebihan cairan ekstraseluler dapat terjadi bila natrium dan air kedua-duanya tertahan dengan proporsi yang kira- kira sama.Dengan terkumpulnya cairan isotonik yang berlebihan pada ECF (hipervolumia) maka cairan akan berpindah ke kompartement cairan interstitial sehingga mnyebabkan edema. Edema adalah penunpukan cairan interstisial yang berlebihan. Edema dapat terlokalisir atau generalisata. 


b.Ketidakseimbangan Osmolalitas dan perubahan komposisional 
Ketidakseimbangan osmolalitas melibatkan kadar zat terlarut dalam cairan-cairan tubuh. Karena natrium merupakan zat terlarut utama yang aktif secara osmotik dalam ECF maka kebanyakan kasus hipoosmolalitas (overhidrasi) adalah hiponatremia yaitu rendahnya kadar natrium di dalam plasma dan hipernatremia yaitu tingginya kadar natrium di dalam plasma. Pahami juga perubahan komposisional di bawah ini : 
• Hipokalemia adalah keadaan dimana kadar kalium serum kurang dari 3,5 mEq/L. 
• Hiperkalemia adalah keadaan dimana kadar kalium serum lebih dari atau sama dengan 
5,5 mEq/L. 
• Hiperkalemia akut adalah keadaan gawat medik yang perlu segera dikenali, dan 
ditangani untuk menghindari disritmia dan gagal jantung yang fatal. 

2. Proses Keperawatan 
2.1 Pengkajian 
Pengkajian keperawatan secara umum pada pasien dengan gangguan atau resiko gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit meliputi : 
• Kaji riwayat kesehatan dan kepearawatan untuk identifikasi penyebab gangguan 
keseimbangan cairan dan elektrolit 
• Kaji manifestasi klinik melalui : 
- Timbang berat badan klien setiap hari 
- Monitor vital sign 
- Kaji intake output 
• Lakukan pemeriksaan fisik meliputi : 
- Kaji turgor kulit, hydration, temperatur tubuh dan neuromuskuler irritability. 
- Auskultasi bunyi /suara nafas 
- Kaji prilaku, tingkat energi, dan tingkat kesadaran 
• Review nilai pemeriksaan laboratorium : Berat jenis urine, PH serum, Analisa Gas 
Darah, Elektrolit serum, Hematokrit, BUN, Kreatinin Urine. 

2.2 Diagnosis Keperawatan 
Diagnosis keperawatan yang umum terjadi pada klien dengan resiko atau gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit adalah : 
• Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan ansietas, gangguan mekanisme 
pernafasan, abnormalitas nilai darah arteri 
• Penurunan kardiak output berhubungan dengan dysritmia kardio, ketidakseimbangan 
elektrolit 
• Gangguan keseimbangan volume cairan : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan 
dengan diare, kehilangan cairan lambung, diaphoresis, polyuria. 
• Gangguan keseimbangan cairan tubuh : berlebih bwerhubungan dengan anuria, 
penurunan kardiak output, gangguan proses keseimbangan, Penumpukan cairan di 
ekstraseluler. 
• Kerusakan membran mukosa mulut berhubungan dengan kekurangan volume cairan 
• Gangguan integritas kulit berhubungan dengan dehidrasi dan atau edema 
• Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan edema 

2.3 Intervensi Keperawatan 
Intervensi keperawatan yang umum dilakukan pada pasien gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit adalah : 
a. Atur intake cairan dan elektrolit 
b. Berikan therapi intravena (IVFD) sesuai kondisi pasien dan intruksi dokter dengan 
memperhatikan : jenis cairan, jumlah/dosis pemberian, komplikasi dari tindakan 
c. Kolaborasi pemberian obat-obatan seperti :deuretik, kayexalate. 
d. Provide care seperti : perawatan kulit, safe environment. 

2.4 Evaluasi/Kreteria hasil : 
Kreteria hasil meliputi : 
• Intake dan output dalam batas keseimbangan 
• Elektrolit serum dalam batas normal 
• Vital sign dalam batas normal. 

# Rujukan : 

Barbara Kozier, Fundamental Of Nursing Concept, Process and Practice, Fifth Edition, Addison Wsley Nursing, California, 1995 

Dolores F. Saxton, Comprehensive Review Of Nursing For NCLEK-RN, Sixteenth Edition, Mosby, St. louis, Missouri, 1999. 

Sylvia Anderson Price, Alih : Peter Anugerah, Pathofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit, Edisi kedua, EGC, Jakarta, 1995.

Selasa, 10 Januari 2012

Konsep Istirahat Tidur


ATIVITAS, ISTIRAHAT & TIDUR

1) AKTIVITAS
Salah satu tanda kesehatan adalah adanya kemampuan seseorang melakukan aktivitas, seperti berdiri, berjalan, dan bekerja. Kemampuan aktivitas seseorang tidak terlepas dari keadekuatan sistem saraf dan muskuloskeletal. Aktivitas adalah suatu energi atau keadaan bergerak di mana manusia memerlukannya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Ada pun sistem tubuh yang berperan dalam kebutuhan aktivitas
1. Tulang
Merupakan organ yang memiliki berbagai fungsi, diantaranya :
a. Mekanis :
- Membentuk rangk
- Tempat melekatnya berbagai otot
b. Tempat penyimpanan mineral (Kalsium dan Fosfor)
c. Tempat sumsum tulang sebagai pembentuk sel darah
d. Pelindung organ-organ dalam
Jenis tulang :
a. Pipih ( kepala dan pelvis)
b. Kuboid (Vertebra dan tarsal)
c. Panjang (Femur dan Tibia)
2. Otot dan tendon
- Otot memiliki kemampuan berkontraksi yang memungkinkan tubuh bergerak sesuai keinginan
- Tendon adalah suatu jaringan ikat yang melekat pada tulang, origo adalah tempat asal tendon dan insersio adalah arah tendon.
- Terputusnya tendon akan membuat kontraksi otot tidak akan dapat menggerakkan tulang
3. Ligamen
Merupakan bagian yang menghubungkan tulang dengan tulang.

4. Sistem Syaraf
- Terdiri dari sistem syaraf pusat (otak dan medula spinalis) dan syaraf tepi (perifer).
- Setiap syaraf memiliki bagian somatis dan otonom.
- Bagian Somatis memiliki fungsi sensorik dan motorik.
5. Sendi
Merupakan tempat bertemunya dua ujung tulang atau lebih.
Sendi membuat segmentasi darikerangka tubuh dan memungkinkan gerakan antar segmen dan bebagai pertumbuhan tulang.

KEBUTUHAN MOBILITAS
Kemampuan individu untuk bergerak secara bebas mudah dan teratur dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan aktivitas guna mempertahankan kesehatannya.
Jenis mobilitas :
1. Mobilitas penuh
Kemampuan seseorang untuk bergerak secara penuh dan bebas sehingga dapat melakukan ineraksi sosial dan menjalankan peran sehari-hari.
2. Mobilitas sebagian
Kemampuan seseorang untuk bergerak dengan batasan jelas dan tidak mampu bergerak secara bebas karena dipengaruhi oleh ganguan syaraf motorik dan sensorik.
a. Mobilitas sebagian temporer
b. Mobilitas sebagian permanent

Faktor yang mempengaruhi mobilitas :
1. Gaya hidup
2. Proses penyakit
3. Kebudayaan
4. Tingkat energi
5. Usia dan status perkembangan

IMOBILITAS
Merupakan keadaan dimana seseorang tdk dpt bergerak secara bebas krn kondisi yg mengganggu pergerakan (mis; trauma tulang blk, cedera otak berat)

Jenis Imobilitas
1. Imobilitas fisik > pembatasan pergerakan fisik dngn tujuan mencegah komplikasi
2. Imobilitas Intelektual > Keterbatasan daya pikir akibat kerusakan otak
3. Imobilitas Emosional > pembatasan emosional krn adanya perubahan dalam menyesuaiakan diri (mis; amputasi)
4. Imobilitas Sosial > Individu yg mengalami hambatan interaksi sosial dan mempengeruhi penannya.

Perubahan sistem tubuh akibat Imobilitas
1. Perubahan metabolisme
Imobilitas menurunkan BMR, shg energi u/ perbaikan sel berkurang dan mengganggu oksigenasi sel.Imobilitas juga menyebabkan menurunnya ekskresi urin dan peningkatan Nitrogen
2. Ketidakseimbangan Cairan dan elektrolit
Imobilitas akan menyebabkan persediaan protein menurun dan konsentrasi protein serum berkurang sehingga mangganggu kebutuhan cairan tubuh.Berkurangnya perpindahan cairan dari intravaskuler ke interstisial dapat menyebabkan edema. Imobilitas jg menyebabkan demineralisasi tulang akibat menurunnya aktivitas otot sehingga meningkatkan reabsorbsi kalium.
3. Gangguan pengubahan zat gizi
Menurunnya pemasukan protein dan kalori dapat mengakibatkan pengubahan zat makanan pada tingkat sel menurun, dimana sel tdk lagi menerima glukosa, asam amino, lemak dan oksigen dalam jumlah yg cukup untuk melaksanakan metabolisme
4. Ganguan fungsi Gastrointestinal
Imobilitas menurunkan hasil makanan yang dicerna, shg jumlah masukan menurun dan menyebabkan keluhan, mis; perut kembung, mual dan nyeri lambung.
5. Sistem pernapasan
Akibat imobilitas kadar Hb menurun, ekspansi paru menurun, dan lemah otot yang menganggu metabolisme.
6. Sistem Kardiovaskuler
Berupa ortostatik hipotension krn menurunnya kemampuan syaraf otonom, meningkatnya kerja jantung krn posisi yang horisontal, terjadinya trombus krn stasis vena.
7. Gangguan Muskuler
Menurunnya massa otot dapat menyebabkan turunnya otot secara langsung.
8. Gangguan Skeletal
Kontraktur dan Osteoporosis karena reabsorbsi tulang semakin besar sehingga menyebabkan jumlah kalsium dalam darah menurun dan jumlah kalsium yang dikeluarkan melalui urin makin besar
9. Sistem Integumen
Penurunan elastisitas kulit, krn penurunan sirkulasi, iskemia dan nekrosis dengan adanya dekubitus.
10. Eliminasi
Penurunan jumlah urin yg mungkin disebabkan o/ kurangnya asupan dan penurunan curah jantung
11. Perilaku
Rasa bermusuhan, cemas, bingung, depresi, emosional tinggi, mekanisme koping menurun.

2) ISTIRAHAT & TIDUR
Istirahat adalah suatu keadaan dimana kegiatan jasmaniah menurun yang berakibat badan menjadi lebih segar. Sedangkan Tidur adalah suatu keadaan yang relatif tanpa sadar yang penuh ketenangan tanpa kegiatan yang merupakan urutan siklus yang berulang-ulang dan masing-masing menyatakan fase kegiatan otak dan badaniah yang berbeda.
Tahapan Tidur
EEG, EMG, dan EOG dapat mengidentifikasi perbedaan signal pada level otak, otot dan aktivitas masa. Normalnya tidur dibagi menjadi 2 yaitu : Non Rapid Eye Movement (NREM) dan Rapid Eye Movement. Selama masa NREM seseorang terbagi menjadi 4 tahapan dan memerlukan kira-kira 90 menit selama siklus tidur. Sedangkan tahapan REM adalah tahapan terakhir kira-kira 90 menit sebelum tidur berakhir.

1. Tahapan Tidur NREM
a. NREM tahap 1
- Tingkat transisi
- Merespon cahaya
- Berlangsung beberapa menit
- Mudah terbangun dengan rangsangan
- Aktivitas fisik menurun, tanda vital dan metabolisme menurun
- Bila terbangun terasa sedang bermimpi
b. NREM tahap 2
- Periode suara tidur
- Mulai relaksasi otot
- Berlangsung 10-20 menit
- Fungdi tubuh berlangsung lambat
- Dapat dibangunkan dengan mudah
c. NREM tahap 3
- Awal tahap dari keadaan tidur nyenyak
- Sulit dibangunkan
- Relaksasi otot menyeluruh
- Tekanan daraj menurun
- Berlangsung 15-30 menit
d. NREM tahap 4
- Tidur nyenyak
- Sulit untuk dibangunkan, butuh stimulus intensif
- Untuk restorasi dan istirahat, tonus otot menurun
2. Tahapan Tidur REM
a. Lebih sulit untuk dibangunkan dibandingkan dengan tidur NREM
b. Pada orang dewasa normal REM yaitu 20-25% dari tidur malamnya
c. Jika individu terbangun pada tidur REM maka biasanya terjadi mimpi
d. Tidur REM penting untuk kesimbangan mental, emosi juga berperan dalam belajar, memory dan adaptasi.

3. Karakteristik tidur REM
a. Mata : Cepat tertutup dan terbuka
b. Otot-otot : Kejang otot kecil, otot besar imobilisasi
c. Penapasan : Tidak teratur, kadang dengan apnea
d. Nadi : Cepat dan ireguler
e. Tekanan darah : Meningkat atau fluktasi
f. Sekkresi gaster : Meningkat
g. Metabolisme : Meningkat, temperatur tubuh baik
h. Gelombang otak : EEG aktif
i. Siklus Tidur : Sulit dibangunkan

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tidur
1. Penyakit
2. Lingkungan
3. Motivasi
4. Kelelahan
5. Kecemasan
6. Alkohol
7. Obat-oabtan
- Dieuretik menyebabkan insomnia
- Anti Depresan : supresi REM
- Kafein : meningkatkan saraf parasimpatis
- Beta Bloker : menimbulkan insomnia
- Narkotika : mensupresi REM
Gangguan Tidur
1. Insomnia
Ketidakmampuan memperoleh sacara cukup kualitas dan kuantitas tidur.
2. Hipersomia
Berlebihan jam tidur pada malam hari, lebih dari 9 jam, biasanya disebabkan oleh depresi, kerusakan saraf tepi, beberapa penyakit ginjal, liver, dan metabolisme
3. Parasomia
Merupakan sekumpulan penyakit yang mengganggu tidur anak seperti samnohebalisme (tidur sambil berjalan)
4. Narcolepsy
Suatu keadaan / kondisi yang ditandai oleh keinginan yang tidak terkendali untuk tidur, misalnya tidur secara mendadak.
5. Apnoe tidur dan mendengkur
Mendengkur bukan dianggap sebagai gangguan tidur, namun bila disertai dengan apnoe maka akan bisa menjadi masalah.
6. Mengigau
Hampir semua orang pernah mengigau, hal ini terjadi sebelum tidur REM.

Askep Gang. bicara


ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN GANGGUAN BICARA (DELAYED SPEECH) DI POLI TUBUH KEMBANG
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH Dr. SOETOMO SURABAYA

Perkembangan ucapan serta bahasa yang didapat diperlihatkan oleh seorang anak. Perkembangan bicara dan berbahasa merupakan petunjuk dini yang lazim untuk mengetahui ada atau tidak adanya disfungsi serebral atau gangguan neurologik ringan, yang kelak dapat mengakibatkan kesulitan-kesulitan tingkah laku dan kemampuan belajar. Bahasa dapat di rumuskan sebagai pengetahuan tentang  sistim lambang yang dipergunakan dalam komunikaasi yang dilakukan secaara lisan (Nelson, 1994). Ucapan atau bicara adalah memperlihatkan pengetahuan tersebut dalam suatu tingkah kalu yang dapat didengar (Nellson, 1994).
Bahasa dapat dipandang secara dasar diatas mana kemudian di bangun kemampuan bicara tersebuut, yang mana keduanya akan berkembang dalam progresi yang beraturan. Bahasa berhubungan errat dengan kemampuan kognitif. Kemempuan bahasa dapat diperlihatkan dengan berbagai cara :
Dengan cara bagaimana anak terrsebut memberikan respon atas petunjuk-petunjuk lisan yang diberikan kepadanya, dengan gerrakan-gerakan yang diperlihatkan oleh anak yang bersangkutan untuk mengkomunikasikan kebuutuhan-kebutuhan, keinginan-keinginan serta pengetahuan tentang lingkungan yang berrada di sekelilingnya  serta memulai permainan kreatif dan imajinatif yang di perlihatkan oleh anak itu (Nelson, 1994).
Kemampuan berbahasa merupakan indfikator seluruh perkembangan anak, emosi dan linkungannya.
Menurut NCHS berdasar atas laporan orang tua atas diperkirakan gangguan cicara dan bahasa pada anak sekitar 4-5% (diluar gangguan pendengaran serta celah pelatum). Deteksi dini perlu ditegakkan, agar penyebabnya dapat segera dicari, sehingga pengobatan serta pengobatannya dapat dilakukan seawal mungkin.

Bagan Kemampuan Bicara.

Otak bagian hemister
 kiri untuk berbahasa
 








                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                           









POHON MASALAH
 









Resiko ketergantungan

 

Produktifitas

 

Intelegensia

 
Dx Kep :
-          Cemas.
-          Kerang pengetahuan.
-          Koping keluarga tak efektif
 

Keluarga

 

Perkembanga

 
Dx Kep :
-          Gangguan komunikasi verbal.
-          Gangguan bermain.
-          Isolasi sosial.
-          Interaksi sosial.

 
Hubungan sosial
 
Ganggaun Bicara
 
Ganggauan bahasa :
-          ekspresif
-          reseptik
 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                   
ASUHAN KEPERAWATAN ANAK “D” DENGAN
GANGGUAN BICARA.

Pengkajian : tgl 25-7-2001                                          Jam : 09.00 WIB.
I.              IDENTITAS.                                                  Register           : 10065001
     Nama               : An. D                                                Kunjungan      : I
     Jenis kelamin   : Laki-laki.
     Tanggal lahir   : 17-7-1998.
Umur               : 3 Tahun.
Anak ke           : Tiga.

Identitas orang tua :
Nama                    : Ny. Suryani.                          Tn. Rahmad.
Umur                    : 31 Tahun.                              35 Tahun.
Pendidikan           : SLTA.                                   SLTA.
Pekerjaan              : Ibu rumah tangga.                 Wiraswasta.
Agama                  : Islam.                                                Isalam.

Suku                     : Jawa / Indonesia.
Alamat                 : Ds. Sugio / Kec. Sugio, Lamongan
Dx medis              : Developmental delay.
Sumber informasi : Orang tua.

II.      ALASAN DATANG KE RS.
Anak umur 3 tahun belum bisa bicara.

III.   RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG.
Anak terlambat perkembangannya, bicaara tidak sempurna dan tidak lengakap. Hanya bisa mengatakan “moh, mam, mi” bila ingin sesuatu lebih senang menunjuk benda dari pada menyebutkan nama benda tersebut. Sampai saat ini anak belum bisa berjalan, hanya lima langkah cepat lalu jatuh.

IV.   RIWAYAT PENYAKIT TERDAHULU.
Pada usia satu bulan pernah kejang deman dan dibawa ke S. sempat dirawat selama 2 minggu, dan selama 1 minggu dalam keadaan tidak sadar (namun tidak menggunakan sonde atau oksigen menurut orang tua). Setelah berusia dua tahun, anak dibawa ke dokter spesialis anak di daerah di beri obat-obatan untuk merangsang pertumbuhannya,. Sejak usia 6 bulan sampai saat sekarang kien belum bisa bicara, lebih senang diam dan hanya bersuara saat menangis atau ketawa saat kesenangan. Anak dapat mengerti dan menolehak bila namanya di panggil.
Riwayat Imunisasi.
Lengkap, pada usia 1 tahun (DPT, BCG, Polio, Hepatitis).

V.      RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA.
Nenek dari ibu penderita Diabetes Mellitus dan hipertensi adik dari ayah memilki riwayat gangguan perkembangan pada masa kecilnya namun menurut orang tua sudah sembuh setelah setelah berusia dewasa.

VI.   RIWAYAT KEHAMILAN DAN PERSALINAN.
Kehamilan :
Pada usia kehamilan 8 bulan. Ibu pernah minum obat Mixagrip 1x kemudian di stop setelah tahu obat tersebut tidak baik untuk kehamilan.
Riwayat PEB saat kehamilan tidak ada
Persalinan :
Klien lahir di RS dengan  bantuan bidan, lahir spontan letak kepala,   langsung    menangis keras, Cyanosis (-), BB lahir 30 gr, panjang (? : lupa).

Post natal : 
Pertumbuhan   klien  menurut  orang  tua  sama  dengan  anak  normal sampai    pada usia 4 bulan saat klien kembali demam kejang (“namun tidak sempat ngamar di RS”- menurut orang tua).

VII.PEMENUHAN KEBUTUHAN SEHARI-HARI.
·         Nutrisi :
Pada saat bayi sampai usia 2 tahun minim Asi + Pasi, pada saat usia 4 bulan mulai diberi makanan tambahan makanan SUN sampai usia 8 bulan diganti TIM yang dicampur wortel, bayam, ati ayam. Umur 1 tahun makann bubur kasar sampai sekarang. Kebiasaan 3x / hari. BB saat in 10 Kg, TB : 47 cm.
·         Eliminasi :
Bab : 1-2x/ hari, tidak ada masalah.
Bak : 5-6x / hari, tidak ada masalah.
·         Istirahat dan tidur.
Kebiasaan bangun pagi jam 11.00 – 12.30, malam 21.00 – 15.30 WIB. Rata-rata jam tidur per hari 10 – 12 jam.
·         Aktivitas :
Hanya bisa melangkah 5 langkah cepat lalu jatuh. Tangan kiri bengkok keluar (tonus otak ka / ki : 5/4) sehingga jarang dipakai untuk mengambil atau memegang. Bila ingin memegang sesuatu lebih senang berbahasa isyarat  dengan menunjuk benda  dan diminta mengambilkan. Namun menurut orang tua anak tampak mengerti bila disuruh melakukan sesuatu.

VIII.       PERKEMBANGAN.
Tersenyum : usia 1 bulan
Menggerakkan kepala : usia 1 bulan
Mengambil  mainan : usia 5 bulan
Tengkurap : tidak bisa
Merangkak: tidak bisa
Duduk : usia 6 bulan (dengan bantuan)
Berdiri : usia 9 bulan (dengan bantuan)
Berjalan : Mulai usia 3 tahun ( dengan bantuan )
Perkembangan bicara : mengoceh mulai usia 4 bulan
Perkembangan gigi : usia 6 bulan

IX.   KEADAAN LINGKUNGAN.
Klien tinggal bersama orang tuanya dan seorang pembantu. Bila orang tua bekekerja atau sibuk klien diasuh oleh pembantu, atau neneknya bila ada. Menurut pengakuan orang tua merka tinggal di perumahan yang jarang anak kecilnya, pembantu juga tidak aktif melatih anak berbicara. Namun orang tua selalu berusaha secara aktif melatih anak.

X.      PEMERIKSAAN FISIK.
1.      Ukuran Pertumbuhan.
TB                               : 47 cm.
BB                               : 10 Kg.
Lingkar kepala            : 50 cm.
Lingkar dada               : 53 cm.
Lingkar lengan            : 17 cm (kiri).
2.      TTV    :           S          : 37 oC.
N         : 96 x / m, kuat, teratur.
RR       : 24 x / m.
3.      Turgor kulit elastis, perfusi jarungan < 3 detik, intak, keadaan bersih.
4.      Kepala.
-          Bak simetris, rambut lurus dan bersih, agak tipis, tanda-tanda perlukaan tidak ditemukan
-          Mata         :           konjungtiva anemis, kornea bening, pupil isolor,   sclera normal
-          Hidung     :           Polip (-), deviasi (-), simetris ki-ka.
-          Mulut       :           Stomatis (-), gigi lengkap, caries(-), mukosa lembab.
-          Telinga     :           bentuk ki-ka simetris, peradangan (-), tinnitus (-).
-          Leher        :           pergerakan ada gangguan, pembesaran (-), pembesaran V.jugularis (-),    pembesaran kelenjar (-).

5.      Dada :
-          Bentuk simetris, nyeri tekan (-), perkusi sonor, suara abnormal (-), suara nafas vesikuler.

6.      Cardiovaskuler
-          Suara S1 S2 tunggal, murmur(-), irama reguler, pembesaran jantung (-).

7.      Abdomen :
-          Bentuk datar, kenyal, nyeri tekan (-), hepatosplenomegali (-), ginjal teraba, bising usus 10x / m, meteonismus (-).

8.      Eksternal :
-          Tonus otot  5/5/4/4
-          Tangan kiri bengkok ke luar (lengan bawah ekstensi 90o ), tiddak dapat di pakai untuk mengambil sesuatu. Pergerakan tangan kiri bebas.

9.      Urogenital : Ukuran, bentuk, fungsi : normal.

10.  Anus : tidak terdapat kelainan.


XI.   TES TUMBUH KEMBANG BERDASAR DDST MENURUT UMUR.
Hubungan Sosial : menatap muka, bermain dengan anak lain. belum dapat mengenakan baju, menggunakan sendok ( dengan tangan kanan), belum dapat membuka baju, dapat minum dengan gelas

Motorik halus : corat-coret di kertas, memindahkan mainan kubus di cangkir

Bahasa : Mengatakan “moh, mam, mi”, berteriak, menangis

Motorik kasar : berjalan 5 langkah lalu jatuh, tidak dapat berdiri sendiri, dapat               bangkit untuk berdiri, dapat duduk tanpa pegangan

·         Rencana pemeriksaan :
-          CT- Scan.
-          EEG.
-          EMG.

·         Terapi : Roborantia

ANALISA DATA

DATA
ETIOLOGI
MASALAH
S   :   Ibu mengatakan anak            usia 3 tahun belum          bisa bicara.
O : Anak tidak pernah menjawab bila ditanya, hanya memalingkan wajah dan diam.











S :
-. Ibu menanyakan  apakah    penyebab         turunan bisa sembuh.
- Ibu menanyakan apakah ada      kemungkinan anak- nya bisa sembuh.

O :
- Ibu selalu berulang-ulang menanyakan hal yang sama .-Pertanyaan dijawab dengan ragu-ragu.
Stimulus lingkungan
Cedera / gangguan pada otak

Kerusakan bagian anterior 2 posterior

Gangguan bahasa
·         Ekspresif.
·         Reseptik.

Gangguan bicara

Hubungan sosial
    

  


      Hubungan keluarga
Komunikasi verbal


















Cemas.

Koping keluarga  tak efektif.

Kurang pengetahuan.





RENCANA KEPERAWATAN

NO
Dx.Keperawatan
TUJUAN
INTER VENSI
RASIONAL
1.





































2


















3




















4
Gangguan pertumbuhan dan perkembangan : komunikasi verbal b.d kerusakan pada otak hemisfer kiri
DS:
-Ibu mengatakan anak pada usia 1 bulan pernah kejang demam dan dirawat 2 minggu di RS (1 mg dlm keadaan tidak sadar)
-Ibu mengatakan anak hanya bisa mengatakan “mam,moh,mi”
DO:
-Anak tidak pernah menjawab bila ditanya, hanya memalingkan wajah dan diam


















Gangguan pertumbuhan dan perkembangan: komunikasi verbal  b.d stimulus lingkungan yang kurang











Resiko terhadap cedera b.d keterbatasan pergerakan lengan kiri dan kaki kiri sekunder terhadap kegagalan perkembangan gerak motorik
DS:
_Ibu mengatakan anak hanya bisa melangkah 5X  dengan cepat lalu jatuh
DO:
-Lengan kiri ekstensi keluar
-Tonus otot 5/4/5/4

Kecemasan orangtua b.d perubahan status kesehatan (developmental delay)
DS:
-Ibu menanyakan apakah penyakit turunan bisa sembuh
- Ibu bertanya apakah ada ke- mungkinan anaknya bisa sembuh
DO:
-Ibu berulang-ulang menanyakan hal yang sama
-Pertanyaan yang diajukan dijawab dengan ragu-ragu
Tujuan :
Dalam waktu 1 bulan tidak terdapat gangguan komunikasi lebih lanjut seiring dengan perkembangan anak
Kriteria :
Amak dapat mengungkapkan kata-kata yang bermanfaat dan memiliki arti































Tujuan :
Anak akan mampu  mengko-munikasikan kebutuhan dan pikirannya.

Kriteria :
Anak akan memperlihatkan kemampuannya mengeks-peresikan diri.










Tujuan :
Dalam waktu 1x24 jam anak akan terhindar dari cedera

Kriteria :
-Tidak terdapat tanda-tanda luka / memar
-Orangtua mengungkapkan pentingnya pengamanan untuk mencegah anak cedera






Tujuan :
Dalam waktu 30 menit, orangtua dapat menerima keadaan putranya


Kriteria:
Ibu tidak nampak gelisah

Ibu dapat menguraikan hal-hal positif yang dapat dikembangkan yang berkaitan dengan keadaan anaknya
Kaji tanda-tanda vital


Kaji tingkat pertumbuhan dan perkembangan dengan perangkat DDST



Ukur TB,BB dan lingkar lengan kiri


Ukur lingkar kepala dan lingkar dada anak




Ajarkan dan dukung penggunaan ketrampilan berkomunikasi secara asertif, berikan dorongan untuk memulai suatu percakapan

Kolaborasi untuk pemeriksaan CT scan, EEG, EMG


Lakukan latihan komunikasikan (satu dua suku kata yang sederhana) secara bertahap.


Anjurkan ibu / keluarga untuk selalu mengajak anak berkomunikasi di rumah.

Lakukan komunikasi -secara menyeluruh baik verbal maupun non verbal sesuai tingkat perkembangan anak .

Identifikasi faktor resiko dari lingkungan anak yang mungkin dapat menyebabkan terjadinya cedera

Ajarkan orangtua untuk menjauhkan benda-benda yang dpat mencederai anak trutama saat anak dilatih untuk berjalan











Gali kebiasaan komunikasi dan stimulus yang diberikan orangtua kepada anaknya dalam berkomunikasi


Terangkan bahwa anak mengalami keterlambatan perkembangan dan dapat diperbaiki secara maksimal dalam batas tertentu denganusaha yang keras dan waktu yang sangat panjang secara kontinyu




Peningkatan tanda-tanda vital dari normal menunjukkan indikasi proses peradangan
Mengetahui kesesuaian tugas perkembangan yang dicapai anak dengan tugas-tugas yang seharusnya sudah tercapai sesuai perkembangan usianya.
Gambaran dari status gizi anak yang berpengaruh terhadap proses tumbuh kembang anak
Perkembangan sel-sel otak dapat diketahui secara refleksi dari ukuran kepala anak. Anak usia>2 tahun lingkar kepala sedikit lebih kecil dari lingkar dada.
Pengggunaan teknik komunikasi yang efektif akam menghasilkam penyampaian pesan yang mudah dimengerti
Mendeteksi kemungkinan adanya kelainan penyebab gangguan bicara di otak dan untuk memudahkan intervensi selanjutnya
Latihan bicara yang sesuai dengan perkem-bangan anak akan menghindari ekplorasi yang berakibat penekanan fungsi mental anak.
Berikut sertaan keluraga terhadap perawatan anak secara langsung akan banyak membantu perbaikan.
Komunikasi yang kom-preherensif akan meningkatkan stimulus yang di terima anak sehingga memperkuat memori anak terhadap suatu kata.
Membantu menetapkan perencanaan terhadap upaya stimulasi untuk mengembangkan kemampuan motorik
Permainan tertentu yang mudah bergerak atau bahan yang mudah pecah sangat mudah menyebabkan anak cedera










Mengetahui efektifitas dan kemampuan serta usaha yang telah dilakukan orangtua


Peningkatkan pemahaman dan kesadaran orangtua untuk bisa menerima keadaan anakmya dan menggali koping yang positif terhadap kemampuan yang ada pada anak.


Tgl/jam
NO. DX Keperawatan
IMPLEMENTASI
EVALUASI
25/7/2001
09.00















09.30


09.30











10.00









10.15

1



















2











3









4
Mengukur TTV:
-          S: 37 C
-          N : 96 x/mnt
-          P : 24 x/mnt
Menguku r:
            -     TB : 47 cm
-          BB : 10 kg
-          Lingkar kepala  : 50 cm
-          Lingkar lengan kiri : 17 cm
-          Lingkar dada : 53 cm
Mengisi lembar DDST
Mengisi  kurva TB/BB
Mengisi kurva lingkar kepala
Memberikan penjelasan tentang perkembangan yang harus sudah dilalui untuk anak usia 3 tahun
Memberikan penjelasan tentang perkembangan anaknya dan program pengobatan selanjutnya
Melatih anak untuk mengucapkan kata sederhana (Mi-mi, pa-pa, dll)  

Melatih anak untuk mengucapkan kata yang sederhana
Menganjurkan ibu untuk selalu melatih anak bicara dan memanging anak untuk menyebut benda yang diinginkan
Mengajarkan anak untuk menyebut mainan secara sederhana





Mendiskusikan tentang cara orangtua melatih anak berjalan di rumah: anak diajar berjalan sendiri tanpa bantuan

Menjelaskan pentingnya menghindari mainan/bahan yang dapat mencederai anak:
. ayunan tanpa pengaman
. mobil-mobilan (tanpa pengawasan orangtua)
. mainan dari plastik yang mudah pecah

Mendiskusikan upaya orangtua melatih anak berkomunikasi : ibu selalu mengajarkan anak menyebut benda di rumah
Menganjurkan keluarga agar tidak mengisolasi anak, membiarkan anak bergaul dengan sebaya sehingga ada upaya untuk berlatih bicara
Menyarankan ibu untuk sabar dan rajin mengikuti pengobatan dan melakukan latihan di rumah
25 Julli 2001
S: -
O: Anak lebih senzng diam sambil memperhatikan mainan
A: Masalah belum teratasi
P:
. Dorong orangtua untuk melatih anaknya bicara
. Berikan feetback positif terhadap usaha yang telah dilakukan orangtua










25 Juli 2001
S: Orangtua mengungkapkan akan berusaha melatih anakmya bicara
O:
Anak lebih senang diam sambil memperhatikan  mainan
Anak menuruti perintah mengambil mainan dan memindahkan ke wadah
A: Masalah belum teratasi
P: Berikan contoh pada orangtua pengucapan kata sederhana dan berarti

25    Juli 2001
S: Orangtua mengungkapkan akan menjaga anaknya saat belajar berjalan dan menjauhkan mainan yang berbahaya
O:Tanda-tanda perlukaan (-)
A: Masalah teratasi
P: -



25 Juli  2001
S:
. Ibu mengungkapkan mengerti keadaan anaknya
. Ibu mengungkapkan akan selalu melatih anaknya baik bicara maupun pergerakan motorik dengan sabar
O:
. Ibu nampak tenang
.Ibu nampak antusias untuk mengetahuio program terapi yang akan dilaksanakan
A: Masalah teratasi
P:-